Monday, December 9, 2019

thumbnail

QnA Perempuan Otaku Mantan Pemain Film Dewasa Jepang: Shibuya Kaho

Sebelum membaca post ini, sebaiknya kamu membaca terlebih dulu part pertamanya: Wawancara Perempuan Otaku Mantan Pemain Film Dewasa Jepang: Shibuya Kaho


Setelah berbincang-bincang dengan Kaho, pewawancara The Anime Man lanjut ke sesi QnA atau tanya jawab. Sebelumnya, ia telah meminta para followernya di Twitter untuk mengirim pertanyaan untuk Shibuya Kaho. Pertanyaan-pertanyaan terbaik akan dipilih dan dijawab langsung olehnya.

Oke langsung saja ke pertanyaan pertama.

Apa hal paling aneh yang pernah diminta untuk dia lakukan saat shooting waktu dia masih berakting? Juga, apa anime/manga favoritnya?

Kaho tertawa saat mendengar pertanyaan itu.

"Oke," The Anime Man berkata, "Bagaimana kalau kita mulai dari pertanyaan yang lebih halus dulu, apa anime/manga favoritmu?"

Kaho masih tertawa, lalu akhirnya menjawab, "Aku sebenernya sering merasa kesulitan tiap ditanya pertanyaan seperti ini."

"Yah, aku juga sering sekali ditanyai pertanyaan ini.."
"Nah iya kan?"

"Yah, dan aku juga susah menjawabnya karena... banyak sekali.."
"Apalagi tiap era beda-beda kan"

"Ya, makanya kadang aku bertanya balik, yang tahun berapa?"

"Sebagai anak tahun 90-an, yang mana kita seumuran, kan? Haha, aku bisa merasakan vibe-nya.. Ada banyak sekali anime-anime bagus saat itu. Dan bukan hanya shonen, tapi ada juga misal Cardcaptor Sakura... Anime-anime untuk perempuan pun bagus-bagus. Kalau disuruh memilih, mungkin aku akan memilih umm... Digimon.."

"Hoo, lebih dari Pokemon?"

"Ya, dan aku tidak begitu memainkan game-game Pokemon. Dan lagi Digimon dan Pokemon itu dua hal yang sangat amat berbeda, kan? Namanya saja yang mirip. Lalu kemudian mereka mulai mengganti lagu opening dan endingnya untuk ditayangkan di luar negeri, jadi yang kita dengar sama sepertinya cuma musik saat berubahnya haha"

"Yaa, kalau di luar sana, lagunya, Digimonn Digimonn" pewawancara bernyanyi opening Digimon versi luar.

Intinya, mereka sangat menyayangkan lagu opening asli Digimon yaitu Butterfly tidak diputar untuk versi luar, yang mana menurut mereka lagu itu sangat bagus. Dan memang iya, Butterfly memang salah satu opening anime terbaik. #TeamDigimon

Baca juga: Faktor Non Teknis Kenapa Penjualan Komik Demon Slayer: Kimetsu no Yaiba bisa Mengalahkan One Piece di Tahun 2019

"Lalu balik ke pertanyaan yang agak kurang halus, apa hal paling aneh yang pernah diminta untuk kamu lakukan saat shooting waktu dulu masih berakting?"

"Well, ngomong-ngomong soal ini... ada bagian-bagian di film dewasa Jepang yang harus disensor, kau tahu itu kan. Beberapa ada yang mengedarkan versi tanpa sensor ke luar negeri, tapi itu illegal, dan sudah banyak yang dipenjara karena itu. Nah, karena sensor ini, para pemain bisa... memalsukannya..."

"Wow apa kamu mau membongkar sisi gelap industri film dewasa??"

"Hahaha, jadi pernah beberapa aku pun diminta seperti itu. kru film memasukan cairan ke dalam menggunakan sedotan, lalu dari pojokan bersiap-siap dengan pompa untuk membuatnya muncrat ke luar. Jadi yah begitu, aku berpura-pura, Ikeh ikeh ikeh lalu pompanya ditekan, begitu, hahaha"

Kaho menceritakannya secara blak-blakan. "Biasanya mereka menggunakan susu, susu kedelai, putih telur, macam-macam. Yang bisa diminum.."

"Hoo, seberapa sering mereka memintamu untuk melakukan itu?"

"Sangat sering." jawab Kaho. "Bagaimanapun, rumah-rumah produksi, dan fans sangat menyukai cream pie, tapi kami tidak bisa melakukannya terus menerus. Dan untuk yang asli, mereka membayar lebih. Dan kami juga harus menjalani berbagai macam tes dulu. Beberapa orang juga menganggap yang asli itu kurang etis. Jadi kalau bisa mendapat hasil yang sama dengan biaya produksi yang lebih sedikit, mending berpura-pura saja, menggunakan cairan palsu.."

"Yah, benar juga, dan kurasa para penonton juga tidak terlalu menyadarinya" ucap pewawancara.

"Dan karena cairan yang dipakai itu minuman, diminum, jadinya masalah untuk yang punya alergi. Untungnya aku tidak punya alergi. Tapi banyak kenalanku yang alergi pada pisang, susu, telur, dll"

Pewawancara lalu lanjut menanyakan pertanyaan kedua.

Pernahkah kamu bertemu dengan orang yang mengenalmu di tempat umum? Kalau pernah, bagaimana kejadiannya?

"Tentu banyak yang mengenaimu, kan?" pewawancara bertanya, "Apalagi di acara-acara anime.."

"Ah... Iya, kalau di acara-acara anime mungkin. Tapi saat aku menjalani kehidupanku sehari-hari, berpakaian normal, menutupi badanku, orang-orang tidak terlalu memperhatikanku hahaha. Tapi sebaliknya di acara-acara anime juga, aku sering melakukan cosplay, dan orang-orang tidak mengenaliku karena tentu penampilanku berbeda. Dan entah kenapa, kurasa orang-orang berpikir kalau aku lebih tinggi..."

"Ah iya, kupikir juga begitu"

"Nah iya kan, mungkin karena aku... besar? Mungkin karena secara umum aku besar, lemakku banyak, hahahaha"

Pertanyaan berikutnya.

Apa cosplay favoritmu?

"Ah.. Ini menarik. Kurasa karakter-karakter favoritku, rata-rata berdada kecil. Aku suka Megumin dari Shukufuku, lalu Nico Yazawa dari Love Live, dan aku lebih suka Ramu dibanding Remu"

"Oh, jadi kamu masuk ke dalam kelompok yang 1%? Hahaha"

"Yah, intinya aku jadi tidak bisa meng-cosplay karakter-karakter favoritku. Misalnya lagi aku suka Yuffie dari Final Fantasy VII, tapi aku akhirnya cuma bisa meng-cosplay Tifa karena yah... tahu sendiri kan.. ukuran itunya.. Tapi tidak apa-apa, Tifa juga karakter yang bagus."

Pertanyaan berikutnya.

Kalau ada, apa Hentai favoritmu?

"Wooow..." Kaho berpikir sejenak lalu menjawab, "Aku suka Shiwasu no Okina.."
"Aku juga suka manga-manga buatan Shiwasu no Okina" ucap pewawancara. "Apalagi Nudist Beach"

"Nah iya itu juga favoritku.."

Punya favorit yang sama, mereka pun toss, high five!!


"Cuma kamu satu-satunya orang yang aku tahu menyukai Shiwasu no Okina," ucap pewawancara bersemangat. "Karena sebagian besar orang yang kukenal favoritnya bukan dia... Kurasa karena Shiwasu no Okina kurang terkenal di luar negeri, kebanyakan orang di Barat tahunya..."

Pewawancara lalu mulai menyebutkan nama-nama mangaka komik dewasa.

"Bukan maksudku mereka jelek, aku juga suka mereka. Cuma saja aku merasa kalau orang-orang kurang menghargai Shiwasu no Okina.."

Pertanyaan berikutnya.

Sebagai seorang laki-laki, aku ingin bertanya. Bagaimana rasanya memiliki dada berukuran besar? Apa mereka sering menghalangi aktivitasmu.

"Sangat menghalangi. Hahaha, paling keuntungannya cuma aku jadi bisa menaruh makanan di atas siini."


"Tidak ada hal bagus yang kudapat dari ukuran besar untuk kehidupan sehari-hari. Mungkin cuma bagus untuk dipakai di film dewasa, atau cosplay mungkin... Tapi di kehidupan sehari-hari, bahkan cosplay pun sebenarnya lebih banyak kekurangannya. Karena ukurannya yang besar, aku hanya bisa meng-cosplay karakter-karakter tertentu. Kadang malih saking besarnya, saat sesi foto malah terlihat seperti doujin-doujin kebanyakan hahaha."

"Apa kamu juga merasa pegal-pegal?"

"Nah iya, itu juga, tiap saat aku selalu merasakannya sampai-sampai terbiasa. Aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa rasa pegal di bahu.."

Dan begitulah sesi bincang-bincang The Anime Man dengan Shibuya Kaho selesai.

Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments