Saturday, December 14, 2019

thumbnail

Versi Teks Kimetsu no Yaiba Chapter 54 - Selamat Malam, Rengoku-san



Tubuh Inosuke terlihat gemetar saat melihat sesosok mahkluk raksasa panjang di hadapannya: Kereta Api.

"I-Ini pasti sang penguasa daratan.. Tidak salah lagi, dilihat dari panjangnya dan auranya yang sangat intimidatif. Saat ini mungkin dia sedang tertidur, tapi jangan sampai kita lengah."

"Bukan, ini mesin uap." ucap Zenitsu, tampak heran melihat prilaku kampung temannya.

Inosuke: "Shh, jangan berisik!"
Zenitsu: "Kau yang jangan berisik!!"

"Aku akan menyerangnya terlebih dahulu!!" ucap Inosuke, masih berpikir kalau kereta api bermesin uap itu adalah mahkluk penguasa daratan.

"Jangan," ucap Tanjirou. "Bisa jadi ini roh pelindung tanah ini, jadi sebaiknya kita tidak menyerangnya."

Zenitsu makin heran dengan dua teman-temannya. "Sudah kubilang ini itu mesin uap. Kalian tidak tahu apa itu kereta, ya? Ini kendaraan. Kendaraan untuk mengangkut orang."

Tanjrou: "Eh? Jadi ini yang dimaksud si burung gagak?"
Zenitsu: "Burung gagak?"

Inosuke: "SUNDULAN BABI!!"

Jduakk!! Inosuke sungguhan menyerang kereta, ia menyundul tembok kereta keras-keras dengan jidat babi hutannya. Zenitsu panik, "Oii jangan!! Jangan bikin kita malu!!"

Dan tak lama dua orang petugas datang sambil membunyi-bunyikan peluit, "Apa yang kalian lakukan!!"
Makin dekat dua polisi yang lantas menyadari kalau tiga anak itu membawa pedang, "Ah!! Mereka membawa pedang, panggil polisi!!"

"Aaaa!!!" Zenitsu panik. "Ayo kabur ayo kabur!!" kemudian menyeret kabur dua temannya.

Meskipun Tanjirou dkk adaah pemburu iblis, yang mana tentu saja memerlukan pedang, tapi tetap saja mereka tidak lepas dari peraturan yang tidak memperbolehkan mereka untuk membawa-bawa pedang di tempat umum. Bagaimana pun pemburu iblis bukanlah profesi resmi yang diakui oleh pemerintah. Mereka bekerja di balik bayangan.

"Kita pembasmi iblis adalah bagian dari organisasi yang tidak secara resmi diakui oleh pemerintah." ucap Zenitsu. Saat ini mereka sudah berada cukup jauh dari petugas. "Kita tak bisa dengan bebas berjalan di depan umum sambil membawa-bawa pedang. Meskipun kita bilang kalau kita ini pemburu iblis, mereka pasti tidak akan percaya. Jadi membawa-bawa pedang hanya akan menimbulkan kekacauan."

Tanjrou: "Padahal kita sudah berjuang sekuat tenaga ya.."
Zenitsu: "Yah mau bagaimana lagi. Jadi sebaiknya untuk sekarang kita sembunyikan dulu pedangnya."

Inosuke lalu dengan penuh rasa bangga menyembunyikan dua pedang miliknya di punggung.
"Tetap kelihatan woi, pakai baju makanya!!"


"Mereka menyebut kendaraan ini Kereta Abadi. Kalau kita menaikinya, harusnya kita bisa bertemu dengan Rengoku-san. Dan sepertinya dia sudah naik duluan." ucap Tanjirou.

"Jadi kita akan menemuinya? Baiklah, kalau begitu aku akan pergi membeli tiket dulu," ucap Zenitsu. "Kalian berdua duduk tenanglah di sini."

"Siap, terima kasih.." ucap Tanjirou.

Zenitsu pun pergi untuk membeli tiket.
"Susah juga ya jalan kaki sambil menyembunyikan pedang" ucapnya.

Tidak lama, tiket dibeli dan mereka pun masuk ke dalam kereta.
"Uwooo!! Kita berada dalam perutnya!!" teriak Inosuke. "Ini akan jadi awal dari pertarungan!!"
"Diam!!"

...

Zenitsu sebenarnya penasaran dengan sosok Rengoku yang diceritakan Tanjirou ini. "Rengiko-san ini, ia seorang Hashira, kan? Apa kau tau dia yang mana?"

"Ya tentu, dia seorang pria dengan rambut menyala, dan aku juga mengingat baunya. Dia ada di dekat si-"

"Lezaat!!" terdengar teriakan dari meja di pojok gerbang. "Lezat!! Lezat!!"

Zenitsu dan Tanjirou menghampiri meja itu dan ternyata di sana ada Rengoku, lagi asik menyantap begitu banyak makanan kotak. "Lezat!! Lezat!! Lezat!!"


Zenitsu langsung ngeh dan berbisik ke Tanjirou, "Pria ini Hashira api?"
"Begitulah.."

Sementara Rengoku masih terus makan sambil mengatakan kata lezat berulang-ulang.

"A-Anu, Rengoku-san.." Tanjirou menghampirinya.
"Lezat!!" kata Rengoku.
"I-Iya aku mengerti.."

Pelayan yang mengurusi kotak-kotak makanan rengoku sampai kewalahan untuk membuang sampah-sampahnya. Sementara mereka beres-beres, Tanjirou berbincang dengan Rengoku mengenai teknik tarian ayahnya. Tapi sayang sekali, ternyata ia pun tidak tahu.

"Begitu ya... Tapi aku tidak tahu!" ucap Rengoku, masih dengan terlihat penuh semangat. "Ini adalah kali pertama aku mendengar tentang Tarian Dewa Api. Aku bersyukur kau bisa menerapkan tarian yang dilakukan ayahmu di dalam pertarungan, tapi cukup aku hanya bisa berkomentar segitu saja."

"Eeh!? Apa tidak ada informasi lain sama sekali..."
"Kau sebaiknya jadi tsuguko-ku saja!! Aku pasti akan merawatmu dengan baik!!"

Zenitsu yang duduk tak jauh dari mereka berkata dalam hati, "Sungguh pria yang aneh.."

"Pernapasan api memiliki sejarah yang panjang!!" ucap Rengoku. "Pendekar yang bisa menggunakan api dan air kerap menjadi hashira di tiap generasi, tanpa kecuali. Teknik pernapasan dasar terdiri dari api, air, angin, batu, dan petir. Pernapasan-pernapasan lain adalah percabangan dari itu. Misalnya kabut adalah percabangan dari angin."

"Nak Mizoguchi!! Pedangmu warna apa!?"
"Eh? Namaku Kamado! Warnanya hitam." jawab Tanjirou, Kamado adalah nama belakangnya.

"Hitam!? berat juga!!" ucap Rengoku.
"Eh begitukah?"

"Aku belum pernah melihat pendekar berpedang hitam menjadi hashira. Terlebih, aku tahu kau pasti juga tak paham teknik berpedang seperti apa yang harus dikuasai."

Dan akhirnya kereta itu mulai berjalan.
Zenitsu: "Oh, keretanya mulai bergerak"
Inosuke: (kaget)

"Aku akan melatihmu di tempatku!! Jadi kau bisa tenang sekarang!!"

Inosuke kemudian melihat keluar jendela, "Uwoooo!! Cepat sekali!!" ia bahkan ingin melompat keluar dari kerata. Untungnya Zenitsu cepat-cepat mencegatnya, "Itu berbahaya, bodoh!!"

"Tapi aku mau turun dan berlari!! Aku ingin tahu siapa di antara kami yang lebih cepat!!"
"Jadi orang bodoh juga ada batasny!!" Zentsu kesal melihat temannya yang bodoh keterlaluan.

"Di dalam juga bahaya, aku tidak tahu kapan si iblis akan muncul!" ucap Rengoku.
"Eeh!?" Zenitsu kaget. "Kau pasti bercanda, kan!? Iblisnya akan muncul di kereta!?"

"Iya!"

"Iya!? Tidaaaakk!! Jadi kita tidak akan naik kereta ke tempat iblis, tapi naik kereta bersama iblis!? Tidaaak!! Turunkan aku!!" Zenitsu panik.

"Dalam waktu singkat, lebih dari 40 orang telah menghilang di kereta ini." ucap Rengoku. "Kami sudah mengirim beberapa pendekar ke sini, tapi tidak ada yang melapor kembali. Karena itu, aku yang seorang hashira dikirim."

"Haaaa... Pokoknya aku mau turun!!" Zenitsu menangis-nangis.

Tak lama setelah itu, seorang petugas mendatangi mereka. Sambil menunduk ia berkata, "Aku akan... Melihat tiket kalian..."


"Eh dia itu siapa?" Tanjirou bertanya.
"Seorang betugas kereta akan berkeliling mengecek tiket para penumpang dan melubanginya." Rengoku menjelaskan.

Zenitsu masih menangis-nangis, "Turunkan aku dari sini!!"

Sementara pak petugas tetap terlihat murung sambil melubangi tiket Tanjirou dkk. Tanjirou menyadari seperti ada yang aneh. Dalam hati ia berkata, "Bau apa ini? Aku mencium hal yang buruk.."

Petugas itu akhirnya berkata, dengan tatapan kosong, "Aku sudah melihat mereka..."

Dan seketika itu Rengoku merasakan sesuatu. Ia lalu berdiri, menarik petugas itu ke belakangnya dan berkata, "Pak petugas, saat ini berbahaya. Kau sebaiknya mundur dulu. Keadaannya darurat, jadi tolong jangan mempertanyakan kenapa aku membawa-bawa pedang."

Rengoku mengeluarkan pedangnya, karena tiba-tiba dari ujung gerbong sesosok iblis muncul.


Sebagian penumpang tampak ketakutan, sebagian lain terlihat masih tetap tertidur pulas. Iblis itu berbadan kekar, dengan tanduk-tanduk tajam memenuhi kepala dan lengannya. Tanpa mata, kepala mahkluk itu hanya dipenuhi mulut dan taring.

"Mahkluk besar, apa kau menggunakan teknik untuk menyembunyikan darah iblismu? Lumayan sulit untuk bisa menemukan keberadaanmu. Akan tetapi, kalau kau menggunakan taringmu pada orang-orang tak berdosa, maka pedang merah Rengoku akan membakarmu sampai ke tulang!!"

Rengoku mengeluarkan tekniknya,

Teknik Pernapasan Api
Gaya Pertama: Lautan Api!!

Ia bergerak melesat dengan cepat hingga menciptakan kobaran api dan menebas leher mahkluk itu. Sang iblis sama sekali tidak mampu bereaksi untuk menepis serangan itu.


Tubuh iblis itu pun tersungkur dalam kondisi tanpa kepala. Darah muncrat dari ujung leher yang tertebas pedang api Rengoku.

"Keren sekali Kak Rengoku!!" ucap Tanjirou, "Teknik pedangmu hebat sekali!! Jadikan aku muridmu!!"

"Tentu, akan kubuat kau menjadi pendekar pedang yang hebat!!"

Zenitsu: "Aku juga!!"
Inosuke: "Aku juga!!"

"Aku akan merawat kalian semua!!"

"Uwooo Kak Rengoku!!"
"Kakak!!"

Mereka semua langsung menyapa Rengoku aniki.

Setelahnya tidak ada lagi iblis yang menampakkan diri, merekapun bisa tertidur dengan tenang. Tapi benarkah begitu?


Zenitsu, Inosuke, Tanjirou, bahkan Rengoku. Mereka tertidur pulas tanpa menyadari akan hadirnya satu hal berbahaya. Tanpa sepengetahuan mereka, sesosok iblis berdiri di atas kereta dan mengawasi.

Bukan iblis biasa, melainkan salah satu dari dua belas iblis bulan, Juunikizuki.

"Bisa mati ketika sedang bermimpi adalah sebuah anugrah"


Subscribe by Email

Follow Updates Articles from This Blog via Email

No Comments